<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel>
	<title>Bumi Prabu</title>
	<link>http://prabu.dagdigdug.com</link>
	<description>Renungan, motivasi, lentera Hati</description>
	<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 11:38:10 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Belum Haji Sudah Mabrur</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/belum-haji-sudah-mabrur/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/belum-haji-sudah-mabrur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 11:38:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<category><![CDATA[airputih]]></category>

		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/belum-haji-sudah-mabrur/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ahmad Tohari
Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali, karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun.
Jadilah, Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Ahmad Tohari</p>
<p>Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali, karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun.</p>
<p>Jadilah, Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta.</p>
<p>Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka, ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal, Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. </p>
<p>Yu Timah pernah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu, Yu Timah masih bisa menabung di BPR syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi, Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun, setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu, saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.</p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/belum-haji-sudah-mabrur/#more-16" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=16&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_16" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/belum-haji-sudah-mabrur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ketabahan seorang istri</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/ketabahan-seorang-istri/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/ketabahan-seorang-istri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 11:33:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[airputih]]></category>

		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/ketabahan-seorang-istri/</guid>
		<description><![CDATA[Milis Airputih
Indah Prasasti
Beberapa bulan yang lalu, teman baik saya (dia tidak bekerja dan punya dua orang anak laki-laki yang masih kuliah dan sekolah SMA) kehilangan suaminya yang meninggal karena infeksi tetanus. Yang membuat saya sangat terkesan pada teman tersebut adalah ketabahan dan ketawakalannya ketika menghadapi musibah tersebut, yang mungkin bagi sebagian orang terutama wanita (yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Milis Airputih</strong></p>
<p>Indah Prasasti</p>
<p>Beberapa bulan yang lalu, teman baik saya (dia tidak bekerja dan punya dua orang anak laki-laki yang masih kuliah dan sekolah SMA) kehilangan suaminya yang meninggal karena infeksi tetanus. Yang membuat saya sangat terkesan pada teman tersebut adalah ketabahan dan ketawakalannya ketika menghadapi musibah tersebut, yang mungkin bagi sebagian orang terutama wanita (yang kebetulan tidak bekerja dan bahkan anaknya masih banyak membutuhkan biaya sekolah) yang ketika menghadapi peristiwa serupa akan merasa bahwa langit serasa runtuh, bumi serasa hancur dan harapan ke depan bagaikan berjalan pada jalan yang buntu. Akan tetapi, teman saya sama sekali tidak menampakkan kesedihan yang berlebihan..apalagi pingsan (sehingga saya berpikir &#8220;seandainya hal serupa terjadi pada saya, apa saya mampu seperti itu?&#8221;). </p>
<p>Ketika dia diberitahu oleh perawat dan dokter bahwa suaminya telah tiada, dia tidak menjerit atau meraung histeris atau pingsan&#8230;tetapi dia katakan &#8220;Innalillahi wa inna ilaihi roji&#8217;un&#8230;kepastian dari Allah telah datang dan Allah lebih mencintainya daripada saya mencintainya&#8221;. </p>
<p>Kemudian dia masuk ke ruangan tempat suaminya terbaring dan mencium kening suami seraya mengatakan &#8220;mudah-mudahan Allah menempatkan aba dalam tempat yang sebaiknya&#8230;tugas aba telah selesai, tinggal saya yang harus melanjutkannya&#8230;dan saya yakin bahwa Allah juga akan memberikan jalan yang terbaik pula dengan peristiwa ini. Selamat jalan dan beristirahatlah dengan tenang&#8221;</p>
<p>Dokter dan perawat yang melihat keadaan tersebut tercengang sambil mengatakan &#8220;selama bertahun-tahun saya bertugas baru kali ini saya menemui ibu yang begitu tabahnya menghadapi kematian suaminya. Seumumnya yang saya temui seorang wanita akan pingsan atau menjerit histeris mendengar berita yang sama&#8221;</p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/ketabahan-seorang-istri/#more-15" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=15&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_15" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/ketabahan-seorang-istri/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kelinci dan layang-layang</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kelinci-dan-layang-layang/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kelinci-dan-layang-layang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 11:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<category><![CDATA[airputih]]></category>

		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kelinci-dan-layang-layang/</guid>
		<description><![CDATA[Milis Airputih
Oleh Catur Catriks
Sore ini cuaca cerah. Angin bertiup kencang. Pada saat matahari akan tenggelam di barat, banyak hewan bermain di padang lapang. Aneka hewan berada di sana, bermain kejar-kejaran, petak umpet, gendong-gendongan, lomba lari, dan lain-lain. Melihat keramaian di tanah lapang itu, Mas Kelinci menjadi tertarik. Tertarik untuk ikut bemain sambil menikmati tenggelamnya sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Milis Airputih</strong></p>
<p>Oleh Catur Catriks</p>
<p>Sore ini cuaca cerah. Angin bertiup kencang. Pada saat matahari akan tenggelam di barat, banyak hewan bermain di padang lapang. Aneka hewan berada di sana, bermain kejar-kejaran, petak umpet, gendong-gendongan, lomba lari, dan lain-lain. Melihat keramaian di tanah lapang itu, Mas Kelinci menjadi tertarik. Tertarik untuk ikut bemain sambil menikmati tenggelamnya sang matahari. Cepat-cepat ia mengambil mainannya yang disimpan di belakang rumah, sebuah layang-layang bermodel capung.</p>
<p>Ia pun berlari ke tanah itu. Tapi sebelum langkahnya jauh, tiba-tiba ia berhenti. Ia melihat bahwa yang bermain di sana adalah hewan-hewan bertubuh besar. Ia takut terinjak oleh Gajah, Banteng, atau Sapi Hutan. Maka ia pun menaikkan layang-layangnya dari pinggir tanah lapang.<br />
Angin yang bertiup kencang langsung menerbangkan layang-layangnya. Dengan asyiknya ia mengendalikan layang-layang pada benang. Tapi tiba-tiba angin bertiup dengan arah tak tentu. Mas Kelinci tidak dapat mengatur layang-layang. Layang-layang menukik tajam dan menyangkut pada sebuah ranting pohon yang tinggi.</p>
<p>â€œDuh, layang-layangku,â€ kata Mas Kelinci. Ia menarik-narik benang, berharap layang-layang bisa terlepas. Tapi semakin ia menarik, layang-layang semakin erat menyangkut pada ranting pohon.</p>
<p>Mas Kelinci jadi sedih. Ia tidak bisa bermain lagi. Kemudian ia melihat ke tengah tanah lapang. Di sana ada Jerapah yang berleher panjang sedang berloncat-loncat dengan beberapa temannya.</p>
<p>Mas Kelinci segera punya ide. Ia berlari ke tanah lapang mendekati Jerapah. Setelah sampai ia berteriak.</p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kelinci-dan-layang-layang/#more-14" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=14&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_14" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kelinci-dan-layang-layang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Si Penebang Pohon</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kisah-si-penebang-pohon/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kisah-si-penebang-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 11:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<category><![CDATA[airputih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kisah-si-penebang-pohon/</guid>
		<description><![CDATA[Milis Airputih
&#8220;Kan Shu De Gu Shi&#8221; 
Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Milis Airputih</strong></p>
<p>&#8220;Kan Shu De Gu Shi&#8221; </p>
<p>Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.</p>
<p>Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.</p>
<p>Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, &#8220;Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu.&#8221; </p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kisah-si-penebang-pohon/#more-13" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=13&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_13" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kisah-si-penebang-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Maafkan salahku, Ibu&#8230;.</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/maafkan-salahku-ibu/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/maafkan-salahku-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 11:03:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<category><![CDATA[airputih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/maafkan-salahku-ibu/</guid>
		<description><![CDATA[Motivasi Net, Milis Airputih 
Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi
negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font color="#000000"><strong>Motivasi Net, </strong><strong>Milis Airputih </strong></font></p>
<p>Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apa pun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi<br />
negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.</p>
<p>Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.</p>
<p>Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, &#8220;Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu&#8221;.</p>
<p>Saya pun menjawab &#8220;Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya&#8221;</p>
<p>Dokter itu menjawab &#8220;Karena obat yang ini mahal Pak Jamil.&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang harganya berapa dok?&#8221; Tanya saya.</p>
<p>Dokter itu dengan mantap menjawab &#8220;Dua belas juta rupiah sekali suntik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haahh 12 juta rupiah Dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok?&#8221;</p>
<p>Dokter itu menjawab, &#8220;Sehari tiga kali suntik pak Jamil.&#8221;</p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/maafkan-salahku-ibu/#more-12" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=12&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_12" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/maafkan-salahku-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta dan waktu</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-dan-waktu/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-dan-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 10:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Resonansi]]></category>

		<category><![CDATA[suaramerdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-dan-waktu/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.suaramerdeka.com/
Tersebutlah, di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.
Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.suaramerdeka.com/">http://www.suaramerdeka.com/</a></p>
<p>Tersebutlah, di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak. Ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.</p>
<p>Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta. </p>
<p>Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. &#8220;Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!&#8221; teriak Cinta.</p>
<p>&#8220;Aduh! Maaf, Cinta!&#8221; kata Kekayaan, &#8220;perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini.&#8221; </p>
<p>Lalu Kakayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun kemudian dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya. &#8220;Kegembiraan! Tolong aku!&#8221;, teriak Cinta. Namun Kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. </p>
<p>Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang. Ia kian panik. Tak lama lewatlah Kecantikan. &#8220;Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!&#8221;, teriak Cinta.</p>
<p>&#8220;Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini,&#8221; sahut Kecantikan.</p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-dan-waktu/#more-11" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=11&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_11" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-dan-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Surat terakhir seorang supir truk</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/surat-terakhir-seorang-supir-truk/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/surat-terakhir-seorang-supir-truk/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 10:25:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Resonansi]]></category>

		<category><![CDATA[suaramerdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/surat-terakhir-seorang-supir-truk/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.suaramerdeka.com/
Steamboat Mountain adalah pembunuh. Setiap sopir truk yang menyusuri jalan raya Alaska memperlakukannya dengan hormat, terutama di musim dingin. Tikungan dan belokan jalan di gunung itu dan tebingnya yang curam menukik tajam dari jalanan berlapis es. Tak terhitung truk dan sopir truk yang tersesat di situ dan masih banyak lagi yang diyakini akan mengikuti jejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.suaramerdeka.com/">http://www.suaramerdeka.com/</a></p>
<p>Steamboat Mountain adalah pembunuh. Setiap sopir truk yang menyusuri jalan raya Alaska memperlakukannya dengan hormat, terutama di musim dingin. Tikungan dan belokan jalan di gunung itu dan tebingnya yang curam menukik tajam dari jalanan berlapis es. Tak terhitung truk dan sopir truk yang tersesat di situ dan masih banyak lagi yang diyakini akan mengikuti jejak terakhir mereka.</p>
<p>Dalam suatu perjalanan di jalan raya itu, aku bertemu dengan Royal Canadian Mounted Police (polisi Kanada) dan beberapa mobil derek, menarik sisa sebuah mobil menaiki tebing terjal. Aku memarkir trukku dan menghampiri sekelompok sopir truk yang diam mengawasi mobil hancur yang mulai muncul dari jurang.</p>
<p>Salah seorang polisi menghampiri kami dan berkata perlahan, &#8220;Saya minta maaf,&#8221; katanya, &#8220;Sopirnya sudah meninggal saat kami menemukannya. Ia pasti melampaui jalan ini dua hari yang lalu waktu ada badai salju yang buruk. Tak terlihat banyak jejak. Untung kami melihat sinar matahari memantulkan logamnya.&#8221; Ia menggelengkan kepalanya perlahan dan merogoh saku mantelnya. &#8220;Ini&#8230;, mungkin kalian sebaiknya membaca ini. Rupanya dia masih hidup beberapa jam sebelum mati kedinginan.&#8221; </p>
<p>Aku belum pernah melihat polisi berlinangan air mata. Aku selalu menyangka mereka sudah sering melihat kematian dan kesusahan sehingga mereka sudah kebal. Tapi ia menghapus air mata saat ia menyerahkan surat itu kepadaku. Selagi aku membacanya, aku mulai menangis. Semua supir terdiam membaca kata-kata itu, lalu berjalan kembali ke truknya masing-masing. Kata-kata itu terpatri dalam ingatanku, dan sekarang, bertahun-tahun kemudian, surat itu masih terlihat jelas seakan aku memegangnya di hadapanku. Aku ingin berbagi yang diceritakan surat itu dengan Anda dan keluarga Anda.</p>
<p><em>Desember 1974, Istriku yang tercinta,</em></p>
<p><em>Tak ada orang yang ingin menulis surat seperti ini, tapi aku cukup beruntung memiliki kesempatan untuk mengatakan apa yang sering lupa kukatakan. Aku mencintaimu, Sayang. Kamu sering berkelakar bahwa aku lebih mencintai truk daripada kamu karena aku lebih banyak menghabiskan waktu dengannya. Aku memang mencintai mesin ini &#8211;ia baik padaku. Ia menemaniku dalam masa sulit dan tempat yang sulit. Aku selalu dapat mengandalkannya dalam perjalanan panjang dan ia dapat melaju cepat. Ia tak pernah mengecewakanku. Tapi, tahu tidak? Aku mencintaimu karena alasan yang sama. Kamu juga selalu menemaniku dalam waktu yang sulit dan tempat yang sulit. </em></p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/surat-terakhir-seorang-supir-truk/#more-10" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=10&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_10" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/surat-terakhir-seorang-supir-truk/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lima menit saja&#8230;</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/lima-menit-saja/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/lima-menit-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 10:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Resonansi]]></category>

		<category><![CDATA[suaramerdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/lima-menit-saja/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.suaramerdeka.com/
Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. &#8220;Tuh.., itu putraku yang di situ,&#8221; katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.
&#8220;Wah, bagus sekali bocah itu,&#8221; kata bapak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.suaramerdeka.com/">http://www.suaramerdeka.com/</a></p>
<p>Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah. &#8220;Tuh.., itu putraku yang di situ,&#8221; katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan. Mata ibu itu berbinar, bangga.</p>
<p>&#8220;Wah, bagus sekali bocah itu,&#8221; kata bapak di sebelahnya. &#8220;Lihat anak yang sedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku,&#8221; sambungnya, memperkenalkan.</p>
<p>Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya. &#8220;Ayo Jack, <em>gimana </em>kalau kita sekarang pulang?&#8221;</p>
<p>Jack, bocak kecil itu, setengah memelas, berkata, &#8220;Kalau lima menit lagi, boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok, yaaa&#8230;?&#8221;</p>
<p>Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi. &#8220;Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?&#8221;</p>
<p>Lagi-lagi Jack memohon, &#8220;Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit <em>tok</em>, ya? Boleh ya, Yah?&#8221; pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.</p>
<p>Pria itu bersenyum dan berkata, &#8220;OK-lah, iyalah&#8230;&#8221;</p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/lima-menit-saja/#more-9" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=9&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_9" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/lima-menit-saja/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta itu&#8230;</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-itu/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 10:23:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Resonansi]]></category>

		<category><![CDATA[suaramerdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-itu/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.suaramerdeka.com/
Cinta itu seperti kupu-kupu. Tambah dikejar, tambah lari. Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang di saat kamu tidak mengharapkannya. Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih. Cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. Jadi janganterburu-buru, dan pilihlah yang terbaik.
Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang &#8220;sempurna&#8221; bagi seseorang. Tapi bagaimana menemukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.suaramerdeka.com/">http://www.suaramerdeka.com/</a></p>
<p>Cinta itu seperti kupu-kupu. Tambah dikejar, tambah lari. Tapi kalau dibiarkan terbang, dia akan datang di saat kamu tidak mengharapkannya. Cinta dapat membuatmu bahagia tapi sering juga bikin sedih. Cinta baru berharga kalau diberikan kepada seseorang yang menghargainya. Jadi janganterburu-buru, dan pilihlah yang terbaik.</p>
<p>Cinta bukan bagaimana menjadi pasangan yang &#8220;sempurna&#8221; bagi seseorang. Tapi bagaimana menemukan seseorang yang dapat membantumu menjadi dirimu sendiri. Dan karena itu kamu sempurna.</p>
<p>Jangan pernah bilang &#8220;<em>I love you</em>&#8221; kalau kamu tidak perduli. Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada. Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya. Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya kebohongan. Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya&#8230;</p>
<p>Cinta bukan, &#8220;Ini salah kamu&#8221;, tapi &#8220;Ma&#8217;afkan aku&#8221;. Bukan &#8220;Kamu di mana sih?&#8221;, tapi &#8220;Aku disini&#8221;. Bukan &#8220;<em>Gimana</em> sih kamu?&#8221;, tapi &#8220;Aku ngerti kok&#8221;. Bukan &#8220;Coba kamu <em>gak kayak gini</em>&#8220;, tapi &#8220;Aku cinta kamu seperti kamu apa adanya&#8221;.</p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-itu/#more-8" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=8&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_8" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/cinta-itu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih anjing kecil</title>
		<link>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kasih-anjing-kecil/</link>
		<comments>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kasih-anjing-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 10:22:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>prabu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Resonansi]]></category>

		<category><![CDATA[suaramerdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kasih-anjing-kecil/</guid>
		<description><![CDATA[http://www.suaramerdeka.com/
Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. &#8220;Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya. Karena saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.suaramerdeka.com/">http://www.suaramerdeka.com/</a></p>
<p>Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. &#8220;Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya. Karena saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya&#8221;, ujarnya dengan sinis.</p>
<p>Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi. Tapi, dari kandang sebelah, ia mendengar suara seekor sapi. &#8220;Saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini&#8221;, dengan nada mencemooh.</p>
<p>Belum lagi kesedihannya hilang, ia mendengar teriakan domba. &#8220;Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya. Aku memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini.&#8221;</p>
<p> <a href="http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kasih-anjing-kecil/#more-7" class="more-link">(more&#8230;)</a></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://prabu.dagdigdug.com/?p=7&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_7" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://prabu.dagdigdug.com/2008/03/27/kasih-anjing-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

