Milis Airputih
Oleh Catur Catriks
Sore ini cuaca cerah. Angin bertiup kencang. Pada saat matahari akan tenggelam di barat, banyak hewan bermain di padang lapang. Aneka hewan berada di sana, bermain kejar-kejaran, petak umpet, gendong-gendongan, lomba lari, dan lain-lain. Melihat keramaian di tanah lapang itu, Mas Kelinci menjadi tertarik. Tertarik untuk ikut bemain sambil menikmati tenggelamnya sang matahari. Cepat-cepat ia mengambil mainannya yang disimpan di belakang rumah, sebuah layang-layang bermodel capung.
Ia pun berlari ke tanah itu. Tapi sebelum langkahnya jauh, tiba-tiba ia berhenti. Ia melihat bahwa yang bermain di sana adalah hewan-hewan bertubuh besar. Ia takut terinjak oleh Gajah, Banteng, atau Sapi Hutan. Maka ia pun menaikkan layang-layangnya dari pinggir tanah lapang.
Angin yang bertiup kencang langsung menerbangkan layang-layangnya. Dengan asyiknya ia mengendalikan layang-layang pada benang. Tapi tiba-tiba angin bertiup dengan arah tak tentu. Mas Kelinci tidak dapat mengatur layang-layang. Layang-layang menukik tajam dan menyangkut pada sebuah ranting pohon yang tinggi.
“Duh, layang-layangku,†kata Mas Kelinci. Ia menarik-narik benang, berharap layang-layang bisa terlepas. Tapi semakin ia menarik, layang-layang semakin erat menyangkut pada ranting pohon.
Mas Kelinci jadi sedih. Ia tidak bisa bermain lagi. Kemudian ia melihat ke tengah tanah lapang. Di sana ada Jerapah yang berleher panjang sedang berloncat-loncat dengan beberapa temannya.
Mas Kelinci segera punya ide. Ia berlari ke tanah lapang mendekati Jerapah. Setelah sampai ia berteriak.
“Kak, Kak Jerapah!!†teriaknya.
Kakak Jerapah mendengar suara itu. Ia pun noleh-noleh siapa yang telah memangilnya. Tapi ia tak melihat kelinci yang ada di bawahnya. Kepala Jerapah terlalu tinggi. Mas Kelinci kembali berteriak. Kali ini Jerapah melongokkan kepalanya ke bawah. Ia baru melihat kalau yang memangggilnya adalah seekor kelinci. Hewan yang sangat kecil baginya.
“Hohohoo, ada apa teman kecil?†tanya Kak Jerapah.
“Kak, bisakah Kakak menolongku? Layang-layangku tersangkut di ranting pohon itu. Aku tak bisa mengambilnya. Aku tak bisa memanjat. Kak Jerapah kan tinggi, pasti kepala Kakak sampai ke ranting itu,†kata Mas Kelinci.
“Boleh teman kecil. Hmm, di mana layang-layangmu tersangkut?â€
“Di sana Kak. Ayuh ikut aku,†ajak Kelinci.
Mereka pun berjalan ke pinggir tanah lapang di mana layang-layang Kelinci tersangkut.
“Itu, di pohon itu,†kata Kelinci sambil menunjuk.
“Oya, naiklah ke kepalaku teman kecil,†suruh Jerapah. Ia menurunkan kepalanya sampai ke tanah. Dan dengan cepat si Kelinci melompat ke atas kepala Jerapah.
Kepala Jerapah segera naik ke atas mengantarkan Kelinci pada layang-layangnya yang tersangkut di sebuah ranting.
Tapi saat Kelinci berada di atas dan layang-layang itu sudah di depannya, Kellinci malah bergetar. Ia tak mampu untuk bergerak mengambil layang-layangnya. Tubuhnya bergetar dan berkeringat.
Ternyata Mas Kelinci takut pada ketinggian. Selama bertahun-tahun ia hanya hidup di bawah, ia tak pernah terbang atau memanjat pohon hingga pada sebuah ketinggian.
“Ayo teman kecil. Layang-layang itu sudah ada di depanmu, ambillah segera!†suruh Jerapah. Tapi Kelinci tak segera mengambil. Ia masih saja bergetar. Ia ketakutan.
“Baiklah, biar aku saja yang mengambil,†kata Jerapah sambil mengambil layang-layang Kelinci dengan mulutnya. Setelah berhasil, Jerapah menurunkan kepalanya ke bawah di atas rumput. Ia meletakkan layang-layang itu dan menyuruh Kelinci untuk segera turun dari kepalanya. Kelinci melompat dan mendarat di atas rumput. Tapi badannya masih saja gemetar ketakutan.
“Hohohoo, kamu takut berada di ketinggian teman kecil? Tenanglah, sekarang kamu sudah berada di bawah,†kata Jerapah menenangkan.
“Tet … terima kasih Kak,†kata Mas Kelinci tebata-bata.
Jerapah tersenyum dan segera berlari ke tengah tanah lapang untuk bermain dengan teman-temannya kembali.
Matahari tenggelam.
Saling Menguatkan Dlm Kebaikan